Sepotong Surat Buat S.A
sekali dua kali pernah kita bercakap-cakap. pada kursi rotan yang sudah lusuh di pojokan ruang tamu dan segelas kopi susu. kadang siang, kadang juga di tengah malam buta. tak pernah kita memperdulikan detik yang berputar dan apapun yang disekitar. aku bertanya, dan kau menjawab. kau bertanya, aku menjawab. dan kita tertawa, menangis, terisi bahagia. sekiranya aku bisa mendampingi kau selamanya, seperti usia yang terus bergulir dengan apa adanya. kau adalah hidup yang kukenal.
---------------------
kita hendaknya selalu bergenggaman tangan dan tak henti-hentinya berangkulan. bersambut kerinduan yang melimpah ketika bersua dan kembali berbincang-bincang. aku bersamamu setiap saat, seperti kau yang mengiringi aku kemanapun kakiku melangkah. ketika aku merindui mu lagi, aku hanya duduk disini dan bercakap denganmu dari hati. kadang terasa gila jika tiba-tiba aku menangis dan melihat kau merangkulku dalam imaji.
---------------------
betapa magis nya sapamu yang sudah cukup membuatku merasa terpenuhi. mengulang cerita lalu sambil menikmati ayam bakar pesanan yang entah kesukaan siapa. kau layaknya adalah kamar, tempat segala privasi dan ketenangan. mungkin tidak ada lagi tempat kosong untuk mereka seperti sifatku yang sulit berikan percaya dan yang selalu kau cerca, bagaimana bisa mencinta kalau tidak percaya. aku sudah mencoba. sungguh mencoba.
---------------------
semalam aku ingat lagi tentang semuanya. meludahi yang telah kulakukan dan memaki perbuatanku. aku tahu, kau membenci sifatku yang selalu ingin menyobek hati sendiri. dan bak ksatria yang perkasa akan ku lantangkan ke semua bahwa aku tidak merasakan apapun. kau pun juga sudah menyerah dengan aku yang keras kepala. hanya sorotan mata yang pastikan akan terus menungguku jika nanti aku menyerah dan akhirnya pun hancur.
---------------------
kukatakan bahwa aku merindui mu lagi. setiap saatku sendiri atau bersama mereka. mereka yang menarik dan indah seperti yang sering kukatakan padamu. mereka yang mencoba bersamaku, sejam, dua jam, seharian. tapi mereka hanya bersamaku, tidak mengerti atau memahami. itu juga yang sering buatku patah dan malas hati. apakah serumit itu aku? kau menjawab tapi tidak juga menjawab ketika kutanyakan itu padamu waktu lalu.
---------------------
sesungguhnya aku hanya ingin hidup dengan tenang, tidak perlu berpikir keras tentang keberadaan cinta. aku hanya percaya cintaku padamu saja. karena sederhana dan tidak bertopeng apapun. aku sudah belajar sebentuk cinta untukmu, dan aku kehabisan materi untuk mempelajari sepenggal yang lain untuk mereka. aku sudah menjadi seorang yang kompleks, sekompleks sybil. aku ingin tutup buku dan pindah ke dunia lain. dan sesekali aku akan berkunjung untuk melihatmu dan bercakap-cakap seperti waktu dulu. kau hanya tertawa keras dan mengomentariku gila.
---------------------
mungkin juga aku sudah gila. aku cuma mau tidur siang.
Created by Santi Widyarini ( This Appearance Leads Curtesy for Santi Widyarini)


Comments